Sekolah sebagai
institusi tidak dapat lepas dari masyarakat di lingkungan sekolah tersebut
berada. Saling keterkaitan sekolah dengan masyarakat ini akan semakin terasa
dengan orang tua murid pada saat tumbuh dan berkembang berbagai kenakalan
remaja, penyalahgunaan obat-obat terlarang, prestasi belajar yang rendah dan
berbagai masalah pembelajaran lain.
Untuk memahami apa dan untuk apa program hubungan sekolah dan
masyarakat perlu diaplikasikan secara intensif dalam pengelolaan pendidikan,
berikut ini akan diuraikan beberapa hal pokok: Pengertian, Tujuan, Prinsip hubungan sekolah dengan masyarakat.
Secara umum orang dapat mengatakan apabila terjadi kontak,
pertemuan dan lain-lain antara sekolah dengan orang di luar sekolah, adalah
kegiatan hubungan sekolah dengan masyarakat. Apakah ini yang dimaksud dengan
hubungan sekolah dengan masyarakat, tentunya yang dimaksudkan dalam uraian
disini tidak sesederhana pengertian tersebut.
Arthur B. Mochlan menyatakan school public relation adalah
kegiatan yang dilakukan sekolah atau lembaga pendidikan untuk memenuhi
kebutuhan msyarakat.
Apa sebenarnya kebutuhan masyarakat terhadap lembaga pendidikan
(sekolah) ? Masyarakat (lebih khusus lagi orang tua murid) mengirimkan anak-anaknya
ke sekolah agar mereka dapat menjadi manusia dewasa yang bermanfaat bagi
kehidupannya dan bagi masyarakat secara umum. Secara praktis sering kita dengar
para orang tua menginginkan anaknya dapat berprestasi di sekolah (khususnya
NEM). Ini berarti kebutuhan masyarakat terhadap sekolah adalah penyelenggaraan
dan pelayanan proses belajar mengajar yang berkualitas dengan out put yang
berkualitas pula. Dengan tuntutan yang demikian
akan menjadi beban bagi sekolah, dengan segala keterbatasan yang dimilikinya
(tenaga, biaya, waktu dan sebagainya).
Pengertian di atas memberikan isyarat kepada kita bahwa hubungan
sekolah dengan masyarakat lebih banyak menekankan pada pemenuhan akan kebutuhan
masyarakat yang terkait dengan lembaga pendidikan. Di sisi lain pengertian
tersebut di atas menggambarkan bahwa pelaksanaan hubungan masyarakat tidak
menunggu adanya permintaan masyarakat, tetapi sekolah/lembaga pendidikan
berusaha secara aktif (jemput bola), serta mengambil inisiatif untuk melakukan
berbagai aktivitas agar tercipta hubungan dan kerjasama harmonis.
Apabila dicermati pengertian tersebut di atas, nampaknya lebih
mengarah pada pola hubungan satu arah, yaitu kemauan sekolah/lembaga pendidikan
untuk memenuhi kebutuhan masyarakat tentang hal-hal yang berkaitan dengan
lembaga pendidikan. Ini berarti pihak sekolah kurang mendapatkan balikan dari
pihak masyarakat.
Definisi yang lebih lengkap diungkapkan oleh Bernays seperti
dikutip oleh Suriansyah (2000), yang menyatakan bahwa hubungan sekolah dengan
masyarakat adalah:1. Information given to
the public (memberikan informasi secara jelas dan lengkap kepada masyarakat);2.Persuasion
directed at the public, to modify attitude and action (melakukan persuasi
kepada masyarakat dalam rangka merubah sikap dan tindakan yang perlu mereka
lakukan terhadap sekolah); 3. Effort
to integrated attitudes and action of institution with its public and of public
with the institution (suatu upaya untuk menyatukan sikap dan tindakan yang
dilakukan oleh sekolah dengan sikap dan tindakan yang dilakukan oleh masyarakat
secara timbal balik, yaitu dari sekolah ke masyarakat dan dari masyarakat ke
sekolah.
Pengertian di atas memberikan gambaran kepada kita apa sebenarnya
hakekat hubungan sekolah dan masyarakat. Hal terpenting dari pengertian di atas,
adalah adanya informasi yang diberikan kepada masyarakat yang dampaknya dapat
merubah sikap dan tindakan masyarakat terhadap pendidikan serta masyarakat
memberikan sesuatu untuk perbaikan pendidikan.
Dengan memahami dua pengertian hubungan sekolah dengan masyarakat
di atas, kita dapat membuat suatu pengertian sederhana tentang hubungan sekolah
dan masyarakat sebagai suatu “proses kegiatan menumbuhkan dan membina saling
pengertian kepada masyarakat dan orang tua murid tentang visi dan misi sekolah,
program kerja sekolah, masalah-masalah
yang dihadapi serta berbagai aktivitas sekolahlainnya”.
Pengertian ini memberikan dasar bagi sekolah, bahwa sekolah perlu
memiliki visi dan misi serta program kerja yang jelas, agar masyarakat memahami
apa yang ingin dicapai oleh sekolah dan masalah/kendala yang daihadapi sekolah
dalam mencapai tujuan, melalui berbagai kegiatan yang dilakukan oleh sekolah.
Dengan demikian mereka dapat memikirkan tentang peranan apa yang dapat
dilakukan oleh masyarakat/orang tua murid dan stakeholders lainnya untuk
membantu sekolah.
Pemahaman masyarakat yang mendalam, jelas dan konprehensip tentang
sekolah merupakan salah satu faktor pendorong lahirnya dukungan dan bantuan
mereka terhadap sekolah. Hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh C.L.
Brownell seperti dikutif oleh Suriansyah (2001) yang menyatakan bahwa:
Knowledge of the program is essential to understanding, and understanding is
basic to appreciation, appreciation is basic to support.
Bertolak dari pendapat yang diungkapkan Brownell tersebut di atas,
dapat dipahami bahwa sekolah/lembaga pendidikan perlu melakukan beberapa
aktivitas dalam melaksanakan manajemen peran serta masyarakat agar dapat
mencapai hasil yang diharapkan dan memberdayakan masyarakat dan stakeholders
lainnya. Beberapa aktivitas tersebut adalah:
Selalu memberikan penjelasan secara preodik kepada masyarakat
tentang program-program pendidikan di sekolah, masalah-masalah yang dihadapi
dan kemajuan-kemajuan yang dapat dicapai oleh sekolah (berfungsi sebagai akuntabilitas).
Agar pemahaman program oleh masyarakat menyentuh hal yang mendasar, maka harus
dimulai dengan penjelasan tentang Visi dan Misi serta tujuan sekolah secara
keseluruhan. Apa yang dimaksud dengan Visi dan Misi Sekolah anda dapat
memperdalam pada buku-buku reference lain. Kenyataan selama ini tidak semua
warga sekolah menghayati atau memiliki pemahaman yang mendalam tentang visi dan
misi sekolah, sehingga pada saat masyarakat ingin mengetahui secara mendalam
tentang hal tersebut warga sekolah (guru, murid, staf tata usaha dan lain-lain)
tidak dapat memberikan penjelasan secara
rinci. Hal ini akan memberikan kesan yang kurang baik kepada masyarakat.
Apabila penjelasan-penjelasan tersebut dipahami masyarakat dan apa
yang diinginkan serta program-program tersebut sesuai dengan kebutuhan masyarakat, maka penghargaan
mereka terhadap sekolah akan tumbuh. Tumbuhnya penghargaan inilah yang akan
mendorong adanya dukungan dan bantuan mereka pada sekolah. Dengan demikian maka
program sekolah harus seiring dengan kebutuhan masyarakat. Karena memang
pelanggan dan pengguna hasil lulusan sekolah adalah masyarakat. Atau dengan
kata lain pelanggan sekolah itu pada hakekatnya adalah siswa dan orang tua
siswa serta masyarakat. Karena itu kebutuhan dan kepuasan pelanggan merupakan
hal pokok yang harus diperhatikan oleh lembaga sekolah. Sebagai contoh:
Bagaimana masyarakat mau membantu sekolah apabila sekolah di tengah masyarakat
religius dan panatik, sekolah tidak
pernah memprogramkan kegiatan sekolah yang bersifat religius, sehingga sekolah
terisolir dari masyarakatnya. Sekolah menjadi menara gading bagi lingkungan
masyarakatnya senidiri. Kondisi ini yang mendorong masyarakat untuk tidak
terlibat apalagi berpartisipasi membantu sekolah.
Bertolak dari gambaran tersebut di atas, Nampak manfaat yang sangat besar bagi sekolah dan
masyarakat, apabila hubungan sekolah dengan masyarakat benar-benar dapat
dikelola dan direalisasikan secara utuh sesuai dengan konsepsi di atas.
Di samping manfaat seperti diuraikan di atas, pelaksanaan hubungan
sekolah dengan masyarakat yang baik akan memberikan manfaat lain seperti: 1. Masyarakat/orang
tua murid dan stakeholders lainnya akan mengerti dengan jelas tentang Visi,
misi, tujuan dan program kerja sekolah, kemajuan sekolah beserta masalah-masalah
yang dihadapi sekolah secara lengakap,
jelas dan akurat; 2.Masyarakat/orang tua murid dan stakeholders lainnya akan
mengetahui persoalan-persolan yang dihadapi atau mungkin dihadapi sekolah dalam
mencapai tujuan yang diinginkan sekolah. Dengan demikian mereka dapat melihat
secara jelas dimana mereka dapat berpartisipasi untuk membantu sekolah; 3. Sekolah akan mengenal secara mendalam
latar belakang, keinginan dan harapan-harapan masyarakat terhadap sekolah.
Pengenalan harapan masyarakat dan orang tua murid terhadap lembaga pendidikan,
khususnya sekolah merupakan unsure penting guna menumbuhkan dukungan yang kuat
dari masyarakat. Apabila hal ini tercipta, maka sikap apatis, acuh tak acuh dan
masa bodoh masyarakat akan hilang. Yang menjadi pertanyaan adalah, sudahkah
sekolah mengenal harapan masyarakat? Atau sekarang justru sekolah memaksakan
harapannya kepada masyarakat! Coba kita analisis kondisi tersebut berdasarkan
pengalaman dan penglihatan selama ini dalam praktek penyelenggaraan pendidikan
di tingkat sekolah. Apabila kita belum melakukan hal tersebut, maka sudah
saatnya mulai sekarang sekolah berbenah diri untuk membangun kemitraan dengan
masyarakat/ stakeholders untuk kemajuan sekolah.
Apabila kondisi dia atas tercipta, para siswa secara langsung
mengetahui bahwa mereka mendapat perhatian yang besar dari kedua belah pihak,
baik pihak orang tua/masyarakat maupun pihak sekolah. Hal ini tentunya
merupakan kartu kendali bagi sekolah untuk bersikap, berperilaku dan bertindak
di laur aturan sekolah yang ada. Kendali/control yang dilakukan bersama antara
sekolah dan masyarakat secara terpadu akan memberikan ruang sempit bagi siswa,
maupun warga sekolah lainnya yang akan bertindak atau berperilaku tidak sesuai
dengan norma dan nilai yang berlaku di lingkungan sekolah dan lingkungan
masyarakat.
Dalam kenyataan yang ditemui di lembaga-lembaga pendidikan
sekarang ini nampaknya masih sedikit ditemukan pola-pola hubungan yang dapat
mendorong terciptanya keempat hal pokok di atas. Hal ini disebabkan adanya persepsi
bahwa peningkatan mutu sekolah dan peningkatan proses pembelajaran cukup
dilakukan oleh pihak sekolah atau pihak pemerintah secara sepihak. Sedangkan
pihak masyarakat dan orang tua murid cukup dimintakan bantuannya dalam bentuk
keuangan saja, atau ada semacam persepsi seolah-olah sekolah lah yang
bertanggung jawab dalam peningkatan mutu. Sedangkan orang tua (masyarakat)
tidak perlu terlibat dalam upaya peningkatan mutu di skeolah. Keterlibatan
orang tua/masyarakat sering diinterpretasikan atau dipersepsi sebagai bentuk
intervensi yang terlalu jauh memasuki kawasan otonomi sekolah. Keadaan ini juga
turut berpengaruh terhadap terciptanya hubungan yang akrab anatar sekolah
dengan pihak masyarakat. Persepsi yang salah ini sebagai akibat dari kurangnya
pemahaman masyarakat tentang pendidikan dan juga pemahaman warga sekolah
tentang apa dan bagaimana harusnya pengelolaan hubungan sekolah dengan
masyarakat dibangun. Di samping itu pemberdayaan masyarakat masih cenderung
pada aspek pembiayaan.
Pengelolaan hubungan sekolah dengan masyarakat sebagai salah satu
aktivitas yang mendapat kedudukan setara dengan kegiatan pengajaran,
pengelolaan keuangan, Pengelolaan kesiswaan dan sebagainya (ingat substansi
kegiatan management sekolah) juga harus direncanakan, dikelola dan dievaluasi
secara baik. Tanpa perencanaan dan pengelolaan serta evaluasi yang baik, tujuan
yang hakiki dari kegiatan hubungan sekolah dengan masyarakat tidak akan
tercapai.
Apa sebenarnya yang ingin dicapai dalam kegiatan hubungan sekolah
dengan masyarakat ?, gambaran pada pembahasan di atas sudah memperlihatkan
kepada kita tentang apa yang ingin dicapai dalam kegiatan ini. Secara lebih
lengkap Elsbree dan Mc Nally seperti dikutip oleh Suriansyah (2001) menyatakan
bahwa kegiatan hubungan sekolah dengan masyarakat bertujuan untuk
1. To improve the quality of children’s learning
and growing.
2. To rise community goals and improve the
quality of community living
3. To develop understanding, enthusiasm and
support for community program of public educations
Dari pendapat ini terlihat bahwa yang ingin dicapai dalam kegiatan
hubungan sekolah dengan masyarakat ini tidak hanya sekedar mendapat bantuan
keuangan dari orang tua mruid/masyarakat, tetapi lebih jauh dari hal tersebut yaitu pengembangan
kemampuan belajar anak dan peningkatan kualitas kehidupan masyarakat, yang pada
akhirnya dapat menumbuhkan dukungan mereka akan pendidikan.
Bagaimana kaitan hubungan sekolah dengan masyarakat dengan
peningkatan kualitas kehidupan masyarakat, coba anda diskusikan dan analisis
secara berkelompok ?
Sebagai bahan perbandingan, anda dapat mempelajari tujuan hubungan
sekolah dengan masyarakat yang dikemukakan oleh L.Hagman sebagai berikut:
1. Untuk memperoleh bantuan dari orang tua
murid/masyarakat, Bantuan apa? Ingat
bantuan ini bukan hanya sekedar uang! Untuk melaporkan perkembangan dan
kemajuan, masalah dan prestasi-prestasi yang dapat dicapai sekolah. Kapan
sebenarnya laporan ini perlu dilakukan oleh pihak sekolah ?
2. Untuk memajukan program pendidikan.
3. Untuk mengembangkan kebersamaan dan kerjasama
yang erat, sehingga segala permasalahan dan lain-lain dapat dilakukan secara
bersama dan dalam waktu yang tepat.
Dari berbagai uraian di atas dapat disimpulkan bahwa hubungan
sekolah/lembaga pendidikan dengan masyarakat sebenarnya bertujuan untuk
meningkatkan:
1. Kualitas pembelajaran. Kualitas lulusan
sekolah dalam aspek kognitif, afektif maupun psikomotor hanya akan dapat
tercipta melalui proses pembelajar di kelas maupun di luar kelas. Proses
pembelajaran yang berkualitas akan dapat dicapai apabila didukung oleh berbagai
pihak termasuk orang tua murid/masyarakat.
2. Kualitas hasil belajar siswa. Kualitas
belajar siswa akan tercapai apabila terjadi kebersamaan persepsi dan tindakan
antara sekolah, masyarakat dan orang tua siswa. Kebersamaan ini terutama dalam
memberikan arahan, bimbingan dan pengawasan pada anak/murid dalam belajar.
Karena itu peningkatan kemitraan sekolah dengan orang tua murid dan masyarakat
merupakan prasyarat yang tidak dapat ditinggalkan dalam konteks peningkatan
mutu hasil belajar.
3. Kualitas pertumbuhan dan perkembangan peserta
didik serta kualitas masyarakat (orang tua murid) itu sendiri. Kualitas
masyarakat akan dapat dibangun melalui proses pendidikan dan hasil pendidikan
yang handal. Lulusan yang berkualitas merupakan modal utama dalam membangun
kualitas masyarakat di masa depan.
Ini berarti segala program yang dilakukan dalam kegiatan hubungan sekolah dengan masyarakat harus
mengacu pada peningkatan kualitas pembelajaran, kualitas hasil belajar dan
kualtas pertumbuhan/perkembangan peserta didik. Apabila hal tersebut dapat kita
lakukan, maka persepsi masyarakat tentang sekolah akan dapat dibangun secara
optimal.
Apabila kegiatan hubungan sekolah dengan masyarakat ingin berhasil
mencapai sasaran, baik dalam arti sasaran masyarakat/orang tua yang dapat
diajak kerjasama maupun sasaran hasil yang diinginkan, maka beberapa
prinsip-prinsip pelaksanaan di bawah ini harus menjadi pertimbangan dan
perhatian. Beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dan dipertimbangkan dalam
pelaksanaan hubungan sekolah dengan masyarakat adalah sebagai berikut:
1. Integrity
Prinsip ini mengandung makna bahwa semua kegiatan hubungan sekolah
dengan masyarakat harus terpadu, dalam arti apa yang dijelaskan, disampaikan
dan disuguhkan kepada masyarakat harus informasi yang terpadu antara informasi
kegiatan akademik maupun informasi kegiatan yang bersifat non akademik.
Hindarkan sejauh mungkin upaya menyembunyikan (hidden activity) kegiatan yang
telah, sedang dan akan dijalankan oleh lembaga pendidikan, untuk menghindari
salah persepsi serta kecurigaan terhadap lembaga pendidikan. Biasanya sering
terjadi sekolah tidak menginformasikan atau menutupi sesuatu yang sebenarnya
menjadi masalah sekolah dan perlu bantuan atau dukungan orang tua murid. Oleh
sebab itu lembaga pendidikan harus sedini mungkin mengantisipasi kemungkinan
adanya salah persepsi, salah interpretasi tentang informasi yang disajikan
dengan melengkapi informasi yang akurat dan data yang lengkap, sehingga dapat
diterima secara rasional oleh masyarakat. Hal ini sangat penting untuk
meningkatkan penilaian dan kepercayaan masyarakat/orang tua murid terhadap
sekolah, atau dengan kata lain transparansi lembaga pendidikan sangat
diperlukan, lebih-lebih dalam era reformasi dan abad informasi ini, masyarakat
akan semakin kritis dan berani memberikan penilaian secara langsung tentang
lembaga pendidikan. Bahkan tidak jarang penilaian dan persepsi yang disampaikan
masyarakatan tentang sekolah sering tidak memiliki dasar dan data yang akurat
dan valid. Persepsi yang demikian apabila tidak dihindari akan menyebebkan hal
yang negatif bagi sekolah, akibatnya sekolah tidak akan mendapat dukungan
bahkan mungkin sekolah hanya akan menunggu waktu kematiannya. Karena dia tidak
dibutuhkan keberadaannya oleh masyarakatnya sendiri.
2. Continuity
Prinsip ini berarti bahwa pelaksanaan hubungan sekolah dengan
masyarakat, harus dilakukan secara terus menerus. Jadi pelaksanan hubungan
sekolah dengan masyarakat jangan hanya dilakukan secara insedental atau
sewaktu-waktu, misalnya hanya 1 kali dalam satu tahun atau sekali dalam satu
semester/caturwulan, atau hanya dilakukan oleh sekolah pada saat akan meminta
bantuan keuangan kepada orang tua /masyarakat. Hal inilah yang menyebabkan
masyarakat selalu beranggapan bahwa apabila ada panggilan sekolah untuk datang
ke sekolah selalu dikaitkan dengan minta bantuan uang. Akibatnya mereka
cenderung untuk tidak datang atau sekedar mewakilkan kepada orang lain untuk
menghadiri undangan sekolah.
Kenyataan selama ini menunjukkan bahwa undangan kepada orang tua
murid dari sekolah sering diwakilkan kehadirannya kepada orang lain, sehingga
kehadiran mereka hanya berkisar antara 60% - 70% bahkan tidak jarang kurang
dari 30%. Apabila ini terkondisi, maka sekolah akan sulit mendapat dukungan
yang kuat dari semua orang tua murid dan masyarakat.
Perkembangan informasi, perkembangan kemajuan sekolah,
permasalahan-permasalahan sekolah bahkan permasalahan belajar siswa selalu
muncul dan tumbuh setiap saat, karena itu maka diperlukan penjelasan informasi
yang terus menerus dari lembaga pendidikan untuk masyarakat/orang tua murid,
sehingga mereka sadar akan pentingnya keikutsertaan mereka dalam meningkatkan
mutu pendidikan putra-putrinya. Oleh sebab itu maka informasi tentang sekolah
yang akan disampaikan kepada masyarakat juga harus di updating setiap saat.
Informasi yang sudah out update akan memberikan kesan kurang baik oleh
masyarakat kepada sekolah.
3. Coverage
Kegiatan pemberian informasi hendaknya menyeluruh dan mencakup
semua aspek, factor atau substansi yang perlu disampaikan dan diketahui oleh
masyarakat, misalnya program ekstra kuirkuler, kegiatan kurikuler, remedial
teaching dan lain-lain kegiatan. Prinsip ini juga mengandung makna bahwa segala
informasi hendaknya lengkap, akurat dan up to date.
Lengkap artinya tidak satu informasipun yang harus ditutupi atau
disimpan, padahal masyarakat/orang tua murid mempunyai hak untuk mengetahui
keberadaan dan kemajuan (progress) sekolah dimana anaknya belajar. Oleh sebab
itu informasi kemajuan sekolah, kegagalan/masalah yang dihadapi sekolah serta
prestasi yang dapat dicapai sekolah harus dinformasikan kepada masyarakat.
Akurat artinya informasi yang diberikan memang tepat dan sesuai dengan
kebutuhan masyarakat, dalam kaitannya ini juga berarti bahwa informasi yang
diberikan jangan dibuat-buat atau informasi yang obyektif.
Sedangkan up to date berarti informasi yang diberikan adalah
informasi perkembangan, kemajuan, masalah dan prestasi sekolah terakhir. Dengan
demikian masyarakat dapat memberikan penilaian sejauh mana sekolah dapat
mencapai misi dan visi yang disusunnya.
4. Simplicity
Prinsip ini menghendaki agar dalam proses hubungan sekolah dengan
masyarakat yang dilakukan baik komunikasi personal maupun komunikasi
kelompok pihak pemberi informasi
(sekolah) dapat menyederhanakan berbagai informasi yang disajikan kepada
masyarakat. Informasi yang disajikan kepada masyarakat melaui pertemuan
langsung maupun melalui media hendaknya
disajikan dalam bentuk sederhana sesuai dengan kondisi dan karakteristik
pendengan (masyarakat setempat). Prinsip kesederhanaan ini juga mengandung
makna bahwa:
a. Informasi yang disajikan dinyatakan dengan
kata-kata yang penuh persahabatan dan mudah dimengerti. Banyak masyarakat yang
tidak memahami istilah-istilah yang sangat ilmiah, oleh sebab itu penggunaan
istilah sedapat mungkin disesuaikan dengan tingkat pemahaman masyarakat yang
menjadi audience.
b. Penggunaan kata-kata yang jelas, disukai
oleh mesyarakat atau akrab bagi pendengar.
c. Informasi yang disajikan menggunakan
pendekatan budaya setempat.
5. Constructiveness
Program hubungan sekolah dengan masyarakat hendaknya
konstruktif dalam arti sekolah
memberikan informasi yang konstruktif kepada masyarakat. Dengan demikian
masyarakat akan memberikan respon hal-hal positif tentang sekolah serta mengerti dan memahami secara detail
berbagai masalah (problem dan constrain) yang dihadapi sekolah. Apabila hal
tersebut dapat mereka mengerti, akan merupakan salah satu faktor yang dapat
mendorong mereka untuk memberikan bantuan kepada sekolah sesuai dengan
permasalahan sekolah yang perlu mendapat perhatian dan pemecahan bersama. Hal
ini menuntut sekolah untuk membuat daftar masalah (list of problems) yang perlu
dikomunikasikan secara terus menerus kepada sasaran masyarakat tertentu.
Prinsip ini juga berarti dalam penyajian informasi hendaknya
obyektif tanpa emosi dan rekayasa tertentu, termasuk dalam hal ini
memberitahukan kelemahan-kelemahan sekolah dalam memacu peningkatan mutu
pendidikan di sekolah.
Prinsip ini juga berarti bahwa informasi yang disajikan kepada
khalayak sasaran harus dapat membangun kemauan dan merangsang untuk berpikir
bagi penerima informasi.
Penjelasan yang konstruktif akan menarik bagi masyarakat dan akan
diterima oleh masyarakat tanpa prasangka tertentu, hal ini akan mengarahkan
mereka untuk berbuat sesuatu sesuai dengan keinginan sekolah. Untuk itu
informasi yang ramah, obyektif berdasarkan data-data yang ada pada sekolah.
6. Adaptability
(Penyesuaian)
Program hubungan sekolah dengan masyarakat hendaknya disesuaikan
dengan keadaan di dalam lingkungan masyarakat tersebut. Penyesuaian dalam hal
ini termasuk penyesuaian terhadap aktivitas, kebiasaan, budaya (culture) dan
bahan informasi yang ada dan berlaku di dalam kehidupan masyarakat. Bahkan
pelaksanaan kegiatan hubungan dengan masyarakat pun harus disesuaikan dengan
kondisi masyarakat. Misalnya saja masyarakat daerah pertanian yang setiap pagi
bekerja di sawah, tidak mungkin sekolah mengadakan kunjungan (home visit) pada
pagi hari.
Pengertian-pengertian yang benar dan valid tentang opini serta
factor-faktor yang mendukung akan dapat menumbuhkan kemauan bagi masyarakat
untuk berpartisipasi kedalam pemecahan persoalan-persoalan yang dihadapi
sekolah.
Prosedur pelaksanan hubungan sekolah dengan masyarakat
dilaksanakan melalui 4 tahap berikut ini:
1. Menganalisis
masyarakat
Kegiatan pertama
dalam pelaksanaan manajemen peran serta masyarakat adalah menganalisis
masyarakat yaitu yang berkaitan dengan sasaran masyarakat, kondisi, karakter,
kebutuhan dan keinginan masyarakat akan pendidikan, problem yang dihadapi
masyarakat serta aspek-aspek kehidupan masyarakat lainnya seperti kebiasaan,
sikap, religius (panatisme beragama) dan sebagainya. Hal ini sangat penting,
karena pemhaman yang salah tentang kondisi masyarakat, akan menyebabkan
program-program yang disusun dan dikembangkan oleh sekolah dalam rangka
pemberdayaan masyarakat untuk pendidikan akan kurang tepat. Untuk melakukan
analisis ini ada beberapa cara yang dapat digunakan yaitu:
a. Warga Sekolah memiliki kepekaan yang tinggi
tentang masyarakat lingkungannya atau orang tua murid yang menjadi warga
sekolahnya. Warga sekolah sudah semestinya merasakan secara sensitif atau peka
tentang berbagai isu di tengah masyarakat baik yang terkait dengan pendidikan
atau aspek lainnya yang akan mempengaruhi kegiatan pendidikan, Sensitivitas ini
harus dimiliki oleh semua warga sekolah, mulai dari kepala sekolah, guru dan
staf sekolah lainnya. Pada saat ini banyak hal atau isu yang berkembang di
masyarakat/orang tua murid tentang pendidikan, baik yang sengaja dikembangkan
oleh orang tertentu maupun yang berkembang akibat kebijkana pendidikan oleh
pejabat pendidikan termasuk kebijakan yang diambil oleh sekolah seperti tentang
BOS, uang sumbangan penerimaan siswa baru dan lain-lain.
b. mengadakan pengamatan melalui survey tentang
kebiasaan, adat istiadat yang mendukung atau bahkan menghambat kemajuan
pendidikan yang ada di tengah-tengah masyarakat. Untuk itu warga sekolah harus sudah terbiasa
bergaul di tengah-tengah masyarakatnya dan akrab dengan semua orang tua murid
tanpa memandang strata social mereka. Dengan cara ini akan memberikan kemungkinan
yang besar bagi warga sekolah mengakses berbagai informasi, isu, dan kebutuhan
masyarakat akan pendidikan anaknya di sekolah.
c. mengadakan wawancara dan dialog langsung
dengan masyarakat khususnya melalui tokoh kunci (key informan), untuk mengetahu
apa kebutuhan dan aspirasi mereka. Untuk dapat melaksanakan ini, setiap warga
sekolah perlu memiliki kemampuan wawancara yang handal.
2. Mengadakan
komunikasi
Tahap kedua dalam mengadakan hubungan sekolah dengan masyarakat
adalah mengadakan komunikasi dengan masyarakat sasaran. Mengadakan komunikasi
pada dasarnya menyampaikan informasi dan pesan dari pihak sekolah kepada
masyarakat sasaran khususnya berkaiatan dengan kemajuan (progress), program dan
masalah (problem). Dalam melakukan komunikasi menurut John L. Beckley, agar
berhasil ada beberapa hal yang
diperhatikan yaitu:
a. Practice Self Controll, dalam hal ini berarti
sebelum memberikan informasi kepada orang lain, pastikan bahwa informasi,
petunjuk atau saran yang diberikan telah dilakukan oleh si pemberi informasi.
Karena itu kalau sekolah meminta masyarakat memperhatikan sekolah, tanyakan
dulu pada sekolah apakah sekolah sudah memperhatikan kebutuhan masyarakatnya.
b. Appraside and where deserve, artinya dalam
berkomunikasi perlu memberikan penghargaan kepada lawan komunikasi, meskipun
penghargaan tidak selalu dalam bentuk materi, misalnya jangan memalingkan muka
pada saat lawan komunikasi berbicara, katakan baik, anggukan dan lain-lain.
c. Critizise Tacfully, artinya kalau anda ingin
memberikan kritik dalam berkomunikasi, berikan secara bijaksana sehingga tidak
mengganggu perasaan orang lain.
d. Always listen, berupayalah anda untuk belajar
mendengarkan orang lain, termasuk dalam hal ini sensitif pada perasaan orang
lain dengan melihat gejala yang muncul. Misalnya jangan paksakan meneruskan
pembicaraan apabila terlihat lawan berkomunikasi sudah sangat bosan. Jangan
mendominasi pembicaraan dengan orang lain (masyarakat lawan dialog), coba
dengarkan apa yang mereka katakana (termasuk perkataan mereka melalui gerak
tubuh), pahami dan hayati maknanya. Apabila terjadi perbedaan persepsi dengan
mereka coba cari persamaannya, jangan perbesar perbedaannya.
e. Stress Reward, berikan penghargaan/ganjaran
kepada lawan bicara kalau memang patut diberikan penghargaan. Penghargaan yang
dimaksudkan dalam hal ini bukan hanya semata-mata dalam bentuk materi, tetapi
juga dalam bentuk non materi.
f. Considire the persons intrest, artinya
perhatikan minat setiap individu lawan bicara. Oleh sebab itu mulailah
pembicaraan dari sesuatu masalah yang menjadi minat, hoby atau pusat perhatian
orang. Dalam pengertian ini dalam dialog jangan paksakan memulai pembicaraan
dari konsep kita, tetapi mulailah dari sesuatu yang menjadi kebiasaan dan minat
mereka, baru diarahkan kepada apa yang kita inginkan.
Keberhasilan komunikasi merupakan kunci keberhasilan dalam
mencapai tujuan hubungan sekolah dengan masyarakat (skill ini communication is a key to
successful team effort). Artinya kalau anda ingin berhasil dalam memberdayakan
masyarakat untuk berpartisipasi dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah,
maka kunci pertama yang harus dikuasai adalah kemampuan berkomunikasi.
Kembangkan kemampuan berkomunikasi secara baik, hal ini dapat dilakukan melalui
latihan dan membiasakan berkomunikasi pada banyak orang.
3. Melibatkan Masyarakat
Melibatkan masyarakat bukan hanya sekedar menyampaikan pesan tapi
lebih dari itu menuntut partisipasi aktif masyarakat dalam berbagai kegiatan
dan program sekolah. Bagaimana teknik agar masyarakat dapat terlibat secara
aktif dapat anda pelajari pada bagian pembahasan tentang teknik hubungan
sekolah dengan masyarakat di bawah ini.
0 komentar:
Posting Komentar