Peranan Manajer
Pendidikan Menggalang dukungan
Masyarakat
Untuk dapat mengaktifkan
orang tua murid, tokoh tokoh masyarakat, komite sekolah dan stakeholders, salah
satu strategi yang dapat ditempuh di luar badan-badan formal seperti komite
sekolah adalah menarik perhatian masyarakat melalui mutu pendidikan yang
dihasilkan oleh staf pengajar. Artinya hubungan akrab dengan masyarakat dimulai
dengan memajukan dan menunjukkan mutu pendidikan yang meyakinkan mereka, hal
ini dapat ditunjukkan melalui produk kualitas lulusan. Untuk itu disarankan untuk dilakukan beberapa
langkah berikut:
1. Bina pengajar secara aktif, seringga mereka
berdedikasi dan professional. Dalam kaitan ini maka kepala sekolah perlu
mengembangkan budaya kerja yang berkualitas di lingkungannya. Budaya kerja
harus dimulai oleh pimpinan untuk selanjutnya kembangkan suasana kerja (iklim
kerja) yang kondusif sehingga melahirkan kemauan untuk bersikap dan bertindak
professional oleh semua warga sekolah.
Dalam kaitan ini Suyata (1996) menyatakan bahwa
karakteristik budaya kerja sekolah yang
dapat membangun mutu adalah:
a. Kedisiplinan. Kedisiplinan semua warga sekolah merupakan salah
satu cerminan/indikator budaya kerja di
sekolah. Kedisiplinan tidak akan terbentuk secara otomatis, tetapi terbentuk
melalui suatu proses. Dalam proses pembentukan kedisiplinan lebih banyak
berlangsung secara imitasi atau peniruan. Karena itu maka agar terjadi imitasi
yang baik harus dimulai dari kepala sekolah yang selalu mencerminkan sikap
kedisiplinan dalam melaksanakan tugas-tugasnya di sekolah. Tidak akan pernah
ada sekolah yang berdisiplin tinggi tanpa kepala sekolah yang berdisiplin.
Dengan demikian kepala sekolah hendaknya menjadi contoh dan tauladan bagi semua
warga sekolah.
b. Monitoring progress siswa, seberapa banyak frekuensi yang
deprogram sekolah untuk memonitor progress yang diperoleh siswa, akan memberikan
informasi yang selalu up to date tentang perkembangan siswa. Di samping itu
perlu diperhatikan apa dan bagaimana proses monitoring tersebut di lakukan dan
siapa yang diberi tanggung jawab untuk melakukan monitoring progress tersebut.
Yang pasti monitoring perkembangan siswa harus dilakukan dan diinformasikan
kepada pelanggan eksternal dan internal sekolah. Pada dasarnya masyarakat
sebagai pelanggan eksternal mengharapkan informasi yang akurat dan up to date
tentang perkembangan yang terjadi di sekolah setiap saat. Kebutuhan akan
informasi ini ,menjadi peluang bagi sekolah untuk menjalin kerjasam yang
harmonis.
c. Harapan yang tinggi terhadap siswa. Harapan yang tinggi terhadap
performansi siswa dan warga sekolah perlu dibangun dan ditumbuh kembangkan agar
dapat berfungsi sebagai penggerak bagi semua orang untuk mencapainya.
d. Focus perhatian warga sekolah pada proses pembelajaran. Semua
warga sekolah harus berupaya memfokuskan perhatian bahwa prestasi sekolah
dihasilkan dari proses pembelajaran, karena itu semua komponen harus mendukung
terciptanyan proses pembelajaran berkualitas dari peran dan fungsinya
masing-masing.
Untuk itu Niron (2001) menyatakan bahwa kepala
sekolah harus memperhatikan beberapa hal pokok berikut ini agar dapat mencapai
target mutu yaitu:
a. Mengidentifikasi pelanggan sekolah. Siapa pelanggan sekolah
sebenarnya, Sallis (1993) menyatakan setiap orang di sekolah memiliki peran
ganda yaitu sebagai pelayan sekaligus sebagai pelanggan, yaitu mereka sebagai
pelayan untuk orang lain (guru terhadap muridnya), tetapi dia juga sebagai
pelanggan pelayanan (guru dari pelayanan kepala sekolah). Untuk itu maka kepala
sekolah sudah seharusnya memberikan pelayanan yang bermutu kepada semua staf
sekolah. Sebab pada dasarnya staflah (guru-guru dan staf tata usaha) yang
membuat kualitas menjadi baik atau menurun. Dengan demikian maka pelanggan
internal ini perlu mendapat perhatian utama agar mereka mendapatkan kepuasan
dalam bekerja. Kepuasan yang diperoleh pelanggan internal (guru dan siswa serta
staf yang ada di lingkungan sekolah) akan memberikan pengaruh terhadap
pelayanan yang mereka berikan terhadap pelanggan eksternal.
b. Mengidentifikasi kebutuhan pelanggan. Kepala sekolah perlu
mengetahui secara jelas apa yang diinginkan oleh pelanggan, khususnya pelanggan
internal yaitu guru-guru, staf dan siswa. Sebab merekalah sebenarnya ujung
tombak bermutu tidaknya produk sekolah yang dihasilkan. Hal ini sangat
strategis mengingat peran mereka selain sebagai pelanggan yang harus
mendapatkan pelayanan dari kepala sekolah, mereka juga sebagai pelayan yang
memberikan pelayanan kepada orang lain seperti guru kepada siswanya.
c. Menetapkan target produk yang diinginkan, khususnya kualitas
produk yang ingin dicapai. Dari sisi menajamen pendidikan tampilan produk suatu
sekolah menjadi citra bagi sekolah di tengah-tengah masyarakatnya. Produk yang
berkualitas menjadi cerminan akan kualitas pelayanan yang diberikan. Hal yang
harus disadari sepenuhnya oleh semua warga sekolah adalah bahwa pusat utama
kegiatan di sekolah adalah pelayanan proses pembelajaran. Karena itu kualitas
pembelajaran harus menjadi target utama perhatian kepala sekolah.
d. Mengembangkan misi, visi dan tujuan secara jelas.
Triguno (1977) menyatakan
bahwa warna budaya kerja adalah suatu produktivitas berupa perilaku kerja yang
dapat diukur seperti kerja keras, ulet, disiplin, produktif, tanggung jawab,
bermotivasi, kreatif, inovatif, responsive dan mandiri. Ini berarti bahwa
budaya kerja seperti terseburt merupakan dasar yanag akan menghasilkan kualitas
proses kerja. Dengan demikian maka apabila seseorang ingin berkualitas kerja
maka dia harus memiliki proses kerja yang berkualitas, proses kerja yang
berkualitas hanya mungkin ada apabila seseorang memiliki budaya kerja.
2. Agar lebih berhasil dalam melakukan perubahan yang berorientasi
pada mutu, Sukardi (2001) menyarankan kepada para kepala sekolah hendaknya
mengakomodasi lima prasyarat penting untuk terjadinya Manajemen Mutu Terpadu.
Implementasinya manajemen mutu menggunakan prinsip-prinsip ilmiah yaitu:
a. Penggunaan 4 langkah siklus yaitu: merencanakan (planning),
melaksanakan (do), Mengontrol (controlling) dan bertindak (Action) atau oleh
Deming sering disebut dengan singkatan PDCA.
b. Data emperik merupakan dasar dalam setiap pengambilan keputusan,
menentukan prioritas dan perubahan-perubahan dalam organisasi. Tanpa data yang
akurat dan valid maka keputusan yang diambil
tidak akan memberikan dampak terhadap peningkatan mutu proses kegiatan
serta hasilnya.
c. Melakukan prediksi, sebagai upaya antisipasi untuk lebih
menyempurnakan produk di masa yang akan datang. Dengan demikian produk dan mutu
yang dihasilkan akan selalu up to date dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat
serta selalu unggul dibandingkan dengan pesaing lainnya.
d. Berfokus pada kepuasan pelanggan. Artinya bahwa segala kegiatan
dan pelayanan harus selalu ditingkatkan secara terus menerus agar didapat
kepuasan pelanggan. Dalam dunia pendidikan di sekolah, pelanggan internalnya
adalah guru, siswa, staf dan sebagainya. Untuk itu maka kepuasan kerja guru,
staf dan kepuasan siswa dalam belajar adalah pertimbangan sentral utama yang
harus diperhatikan oleh seorang kepala sekolah. Makin tinggi kepuasan para
pelanggan, akan memberikan kontribusi dalam meningkatkan mutu proses kegiatan
yang dilakukan oleh mereka.
e. Lebih menekankan pendekatan siklus dalam memperbaiki organisasi.
Konsep ini beranggapan bahwa perbaikan dan perubahan organisasi tidak dapat
dilakukan seperti membalik telapak tangan, tetapi memerlukan waktu yang cukup
dan berkelanjutan. Untuk itu maka perbaikan dan perubahan organisasi ditempauh
melalui siklus tertentu atau menggunakan tahapan-tahap perbaikan.
3. Para pemimpin struktural dalam organisasi sekolah perlu memiliki
pandangan jauh ke depan tentang kemana lembaga sekolah akan diarahkan. Dalam
hal ini para pemimpin harus mengerti Visi, Misi dan Tujuan Institusinya
masing-masing secara mendalam.
4. Para civitas akademika (semua warga sekolah) perlu memiliki
kemampuan profesi yang mancakup kemampuan individual, kemampuan kelompok yang
diciptakan secara sistimatis melalui program pendidikan dan pelatihan. Artinya
perlu pembinaan berkelanjutan melalui diklat, lokakarya, seminar, atau
pembinaan internal oleh sekolah melalui diskusi bulanan, semesteran dan
sebagainya.
5. Adanya apresiasi insentif baik materi maupun insentif psikologis
seperti kemungkinan dan kemudahan promosi, penghargaan atas prestasi pekerjaan
6. Tersedianya sumber daya dan mekanisme penempatan yang sesuai
dengan keahliannya masingt-masing. Meskipun demikian perlu juga dipertimbangkan
aspek psikologis seperti kemauan dan komitmen tugas selian keahlian dalam
menempatkan seseorang pada pekerjaan tertentu. Keahlian saja tidak akan membawa
orang berprestasi tanpa adanya kemauan dan kmoitmen yang kuat untuk berprestasi
kerja.
7. Adanya rencana kerja dan strategi sekolah yang tergambar dalam
Visi, Misi dan tujuan organisasi serta rencana operasional (Renstra dan
Renops).
8. Pacu para pengajar untuk berprestasi dan melaksanakan pembelajaran
secara efektif, sehingga dapat menghasilkan lulusan yang berprestasi. Banyak
contoh sekolah favorit diserbu oleh masyarakat dengan biaya mahal karena
lulusannya berprestasi tinggi, dapat melanjutkan ke sekolah yang bermutu
(lanjutan maupun perguruan tinggi). Apabila hal ini dapat dilakukan masyarakat
akan sangat mudah diminta bantuannya, tenaga, waktu bahkan materi sekalipun.
Untuk memacu percepatan mutu melalui percepatan peningkatan mutu tenaga ini
maka suasana kondusif yang memungkinkan tumbuh dan berkembangnya motivasi
kerja, kemauan (willingness) dan komitmen kerja merupakan prasyarat yang harus
dipernuhi. Pendekatan manajemen modern memungkinkan terciptanya suasana yang
menumbuhkan kemauan, komitmen dan motivasi karyawan dalam meningkatkan mutu
kerjanya. Untuk itu maka pimpinan sekolah
perlu mengetahui secara jelas apa dan bagaimana kebutuhan para karyawan di
sekolahnya, sehingga apa yang menjadi kebutuhan karyawan sejalan dengan apa
yang diinginkan oleh lembaga sekolah.
9. Bina semua staf sekolah agar mereka memahami secara jelas dan tepat
apa yang diinginkan oleh sekolah terhadap masyarakat. Sebab setiap tenaga
pendidikan di sekolah mau tidak mau dan sengaja atau tidak sengaja bahkan
disadari atau tidak disadari adalah juru bicara sekolah yang suatu saat akan
ditanya masyarakat tentang sekolahnya. Apabila staf sekolah tidak memahami
sejara jelas dan tepat tentang berbagai program serta kebijakan sekolah, ada
kemungkinan akan memberikan penjelasan yang tidak tepat. Hal ini akan berakibat
pada image yang kurang baik terhadap sekolah. Oleh sebab itu semua staf sudah semestinya harus
mengetahui apa dan bagaimana kebijakan sekolah dalam pengelaolaan sekolah.
0 komentar:
Posting Komentar