Hal yang perlu diperhatikan untuk menggalang
dukungan masyarakat agar bersedia dan turut mendukung lembaga pendidikan adalah
isu yang akan digunakan. Oleh sebab itu pemilihan isu yang tepat akan
berpengaruh terhadap perhatian dan dukungan mereka terhadap sekolah. Sekolah
perlu memiliki kepekaan yang tajam dalam menangkap isu yang ada dimasyarakat
untuk diangkat menjadi isu pendidikan dalam rangka menggalang dukungan
masyarakat terhadap pendidikan di sekolah. Isu yang menarik untuk dipakai
sebagai upaya menggalang dukungan harus memenuhi beberapa persyaratan sebagai
berikut:
1. Isu memang benar-benar penting dan berarti bagi masyarakat. Isu
sebaiknya dalam lingkup yang terbatas lebih dahulu serta isu tersebut memiliki
kekhasan. Misalnya isu tentang standar kelulusan ujian nasional mata pelajaran
Bahasa Inggris, matematika dan bahasa Indonesia, isu ini tergolong terbatas
hanya pada 3 (tiga) mata pelajaran, tetapi karakter/kekhasannya sangat menarik
masyarakat untuk terlibat dalam isu tersebut.
2. Isu harus tetap mencerminkan adanya tujuan perubahan yang lebih
besar dalam jangka panjang.
3. Isu yang diungkapkan memiliki landasan untuk membangun kerjasama
lebih lanjut dimasa depan,
4. Apabila memungkinkan ajak beberapa tokoh masyarakat untuk
merumuskan isu penting yang perlu diangkap sebagai dasar untuk membangun
kerjasama dan dukungan.
Agar dukungan masyarakata terhadap lembaga
pendidikan (sekolah) benar-benar memiliki Meaning fullness, maka kerjasama
dengan kelompok pendukung tersebut harus benar-benar efektif. Ada beberapa
Ciri-ciri kerjasama dalam suatu kelompok dengan para pendukung yang efektif,
yaitu:
1. Terfokus pada tujuan atau sasaran yang disepakati.
2. Tegas dalam menetapkan jenis isu yang akan digarap/ditanggulangi
serta diantisipasi bersama.
3. Ada pembagian peran dan tugas yang jelas diantara semua partisipan
4. Jaga dinamika dalam setiap proses kerjasama, karena itu kelenturan
(fleksibilitas) harus benar-benar dijaga.
5. Adanya mekanisme komunikasi yang baik dan lancar, dan jelas,
sehingga semua tahu harus menghubungi siapa tentang apa dan pada saat kapan
serta dimana.
6. Dibentuk untuk jangka waktu tertentu yang jelas.
Sehubungan dengan hal tersebut, maka ada
beberapa saran yang perlu mendapatkan perhatian dan pertimbangan untuk menjaga
tingkat efektivitas kerjasama tersebut di atas:
1. Hindari membentuk struktur organisasi formal, kecuali memang
benar-benar dibutuhkan. Meskipun demikian suasana non formal dalam struktur
formal harus tetap dijaga dan terpelihara. Dalam rangka membangun dukungan
tidak perlu membentuk unit baru dalam struktur di sekolah, tetapi gunakan
struktur yang ada untuk menangani kegiatan tersebut.
2. Delegasikan tanggung jawab dan peran seluas mungkin, kecuali pada
hal-hal yang memang sangat strategis dan hanya boleh diketahui oleh orang-orang
tertentu. Hal ini untuk membangun partisipasi seluruh anggota organisasi,
dengan keterlibatan semua orang maka rasa tanggung jawab keberhasilan juga akan
tumbuh pada semua orang yang dilibatkan.
3. Setiap produk keputusan hendaknya hasil keputusan bersama, bukan
hasil pemikiran seseorang. Berdayakan semua orang yang memiliki kompetensi
untuk mengambil keputusan, dan sejauh mungkin memiliki data dan informasi yang
valid dan akurat untuk keputusan yang akan diambil. Dengan demikian semua orang
akan memahami secara mendasar kebijakan atau keputusan yang akan diambil.
4. Pahami berbagai kendala, kekurangan atau keterbatasan yang
dimiliki semua pihak. Dengan kata lain lakukan SWOT analisis terhadap kelompok
pendukung dan pihak lembaga pendidikan.
5. Ambil prakarsa dan inisiatif untuk selalu menghidupkan saluran
komunikasi dengan semua pihak. Kegagalan pelaksanaan kegiatan, adanya saling
curiga, tuduh menuduh dan lain-lain sering bukan disebabkan ketidak mampuan
kepemimpinan, tetapi sebagai akibat buntunya komunikasi dengan semua orang.
Diskusikan dalam Kelompok:
Coba rumuskan isu-isu strategis, yang perlu
dibangun dalam rangka meningkatkan peran serta masyarakat terhadap sekolah
saudara. Tema yang ingin dicapai di sekolah adalah: peningkatan mutu
pendidikan, peningakatan akses pendidikan, pengurangan angka DO.
0 komentar:
Posting Komentar